TAFSIR SURAT ALI IMRAN: 133-136

Oleh : HM. Hafiz Yazid

               “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orag yang berinfak, bai di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baiknya pahala bagi orag-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran :133-136)

                Dari ayat yang artinya “dan bersegeralah kamu mencari ampunan”, mengisyaratkan wajibnya bersegera pada segala yang menyebabkan keampunan, yaitu segala ketaatan. Menurut Imam al-Qusyairi, bersegeralah manusia dalam ayat tersebut terbagi pada tiga: pertama, para ahli ibadah bersegera dalam berbuat ketaatan dengan ‘kaki’ mereka; kedua, orang ‘arif’ bersegera dalam kedekatan kepada Allah dengan cita-cita mereka; ketiga, orang yang maksiat bersegera mengakui kesalahannya dengan segala penyesalan. Siapa yang bersegera dengan kakinya, mendapatkan pahala. Siapa yang bersegera dengan cita-citanya, mendapatkan kedekatan kepada Allah. Siapa bersegera dengan penyesalannya, mendapatkan rahmat dari Allah.


AL-KHAUF DAN AR-RAJA'

(RASA TAKUT DAN HARAP)

Oleh : HM. Hafiz Yazid

       Rasa takut dan harap laksana dua sayap, dimana para Muqorrobun terbang dengan keduanya menuju setip maqam (kedudukan) yang mulia. Dan rasa takut dan harap juga laksana dua tunggangan, dimana dengan mengendarai keduanya ditempulah segala rintangan jalan menuju akhirat. Maka tidak ada yang dapat menuntun seseorang untuk dekat  kepada Allah yang Maha Pengasih dan hakikat surga melainkan rasa harap, sebagaimana tidak ada yang dapat merintangi seseorang dari siksaan neraka dan azab yang pedih melainkan rasa takut.
          Imam Al-Qusyairy menukil dari Imam Abu Ali Ar-Ruzbari beliau berkata " rasa takut dan harap laksana dua sayap burung, apabila keduanya seimbang maka seimbang dan sempurnalah terbangnya, apabila berkurang salah satunya maka terjadilah ketimpangan dan jika hilang salah satunya maka burung tersebut seakan dalam sekarat.
Al-Khauf (rasa tkut) : sebuah ungkapan tentang rasa perih dan terbakarnya hati karena menanti sesuatu yang dibenci dikemudian hari. Ungkapan lain dari Khauf adalah Al- Faz'u, Ar-Ro'u, Ar-Rohbu, Al-Khifatu, dan Al-Khasyah.
Imam Abu Ali Ad-Daqqoq r.a berkata " Al-Khauf (rasa takut) memiliki tingkatan
1. Al-Khauf : merupakan syarat Iman, Iman seorang hamba dapat memberikannya rasa takut
2. Al-Khosyah : merupakan syarat Ilmu, jadi ilmu seseorang hamba dapat memberikanya Al-Khosyah
3. Al-Haibah : merupakan syarat Ma'rifat seorang hamba dapat menumbuhkan haibah pada dirinya

Definisi Raja'
- Ketergantungan hati untuk mencapai sesuatu yang diinginkan pada masa yang akan datang
- Perasaan tenteram terhadap karunia Allah SWT yang diiringi dengan bukti amal perbuatan dalam semua hal, andai tidak diiringi dengan bukti amal perbuatan maka disebut sebagai Ghufur (tipu daya).

Baca Selengkapnya....

HAL RUMIT DALAM FAROIDH (WARIS)

Oleh : H. Muhammad Saleh Bin H. Umar


  1. Terjadi kematian bersama
             Jika terjadi suatu kematian yang mengakibatkan dua orang atau lebih mati dalam waktu yang sama sehingga tidak ada satupun yang tahu siapa yang mati terlebih dahulu maka dianggap bahwa mereka mati secara bersama-sama seperti terjadi kecelakaan pada suami istri atau ayah dan anak yang mengakibatkan keduanya mati bersama-sama maka harta pusaka mereka berdua dibagi kepada ahli waris masing-masing.
  2. Hukum Munasakhat
             Al-Munasakhat dalam bahasa Arab berarti 'memindahkan' dan 'menghilangkan', misalnya dalam kalimat nasakhtu al-kitaba yang bermakna 'saya menukil (memindahkan) kepada lembaran lain'; nasakhat asy-syamsu ash-zhilla yang berarti 'sinar matahari menghilang bayang-bayang'.
Makna yang pertama--yakni memindahkan / menukil -- sesuai dengan firman Allah swt berikut:
"...Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." (al-Jatsiyah: 29)

Sedangkan makna yang kedua sesuai dengan firman berikut:
"Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?" (Al-Baqarah: 106)

SURGA DAN KENIKMATANNYA


 Oleh: M. Tohir Ritonga

                Setelah dunia ini berakhir dengan terjadinya kiamat, maka jin dan manusia akan dihadapkan kepada berbagai macam peristiwa, mulai dari dibagkitkan dari kubur masing-masing dengan raut wajah yang beragam, dihitung amal baik dan buruk lalu ditimbang, disidang di hadapan Allah ‘Ajja Wajalla, lalu melewati telaga baginda Rasul saw. yang tidak semua orang diizinkan untuk meminumnya, setelah itu perjalanan melewati titian (shirath), kemudian masuk ke dalam surga atau neraka.
                Merupakan suatu hal yang wajib diimani bahwa surga dan neraka itu ada (haq), orang yang tidak percaya akan keberadaan surga dan neraka berarti ia mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an dan sejumlah Hadis Nabi saw. yang menceritakan kenikmatan surga dan kepedihan azab neraka. Oleh karena itu, salah satu rukun iman adalah beriman kepada hari akhir, artinya mempercayai peristiwa-peristiwa yang akan dialami manusia sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan Hadis.
                Allah swt. menempatkan manusia setelah kiamat nanti sesuai dengan amalannya selama hidup di atas dunia ini, hamba yang ta’at tentu akan diberikan tempat yang mulia, dan sebaliknya hamba yang maksiat akan dimasukkan ke dalam tempat yang hina.

AL-QALB

Oleh: HM. Hafiz Yazid

 Rasul SAW. bersabda:
        "Ingatlah! Sungguh, dalam jasad itu ada segumpal daging. Apabila baik, maka baiklah seluruh tubuh. Apabila buruk, maka buruklah seluruh tubu. Segumpal daging itu adalah hati."(HR. al-Bukhari dan Muslim)
            Jika ingin menjadi orang baik, pertama yang harus diperbaiki adalah hati. Al-Imam al-Ghazali menegaskan bahwa hati laksana raja, dan anggota tubuh ibarat rakyatnya. Apabilaraja baik, rakyatnya akan baik. Sebaliknya, jika raja tidak baik, maka rakyatnya juga tidak baik.

Dalam hadist lain, Rasul Saw. bersabda:
          "Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh dan bentukmu, tetapi Allah melihat hatimu." (HR. Muslim)
             Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa hati terbagi pada tiga;
1. Hati yang sehat, adalah hati yang salim. Tidak ada yang selamat di hari Kiamat kecuali dengan hati yang salim.
2. Hati yang mati, adalah hati yang tidak hidup, yang tidak mengenal Tuhannya, tidak mematuhi perintah-Nya, dan tidak mengerjakan apa yang Allah sukai dan ridhai
3. Hati yang sakit, adalah hati yang hidup namun berpenyakitan, yang terkadangbaik, dan terkadang buruk. Di suatu waktu ia cinta kepada Allah, mengimani-Nya, ikhlas karena-Nya, dan tawakkal kepada-Nya.